Hukum  

Abd. Aziz Salim Syabibi dan Istri sirinya, Siti Asyadira R Ghani, diduga terlibat kasus Penipuan dan Penggelapan

Foto ini diambil dari akun Media Sosial Marlaf Sucipto dan publikasinya sudah seizin yang bersangkutan.

Abd. Aziz Salim Syabibi (AS) dan Siti Asyadira R Ghani (AG), pasangan suami-istri saling melengkapi dalam meyakinkan Kiai Fathor (KF); Pengasuh Pondok Pesantren Az-Zumar Mandala, Rubaru Sumenep, agar mengorganisir lembaga-lembaga yang berada di bawah Kementerian Agama Republik Indonesia, untuk mendapat bantuan.

AS menjanjikan bantuan rehab Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) kepada KF, awalnya secara cuma-cuma. Maksudnya, KF tidak perlu menyetorkan sejumlah uang kepada AS. KF diminta oleh AS untuk mengorganisir lembaga lain yang turut ingin mendapatkan bantuan rehab MDT.

Atas hal itu, KF tertarik. Dengan jaringannya yang luas, Ia langsung mengorganisir lembaga-lembaga yang berharap mendapat bantuan rehab MDT sebagaimana petunjuk AS. Akhirnya, ada banyak lembaga yang dibawa KF untuk dipertemukan dengan AS, untuk sama-sama diusulkan supaya dapat bantuan rehab MDT. Kemudian terkumpul lembaga-lembaga yang berharap mendapat bantuan dari dua kabupaten; Sumenep dan Pamekasan.

Setelah KF menyetorkan nama-nama lembaga, berikut dokumen lain yang diperlukan, yang diminta oleh AS, AS kemudian mulai meminta sejumlah uang. Istri sirinya pun, AG, turut berperan agar KF menyerahkan sejumlah uang. AS ternyata tidak konsisten dengan pernyataannya bahwa dalam pengurusan ini tidak memerlukan uang.

Dengan uang yang diminta oleh AS dan AG, AS dan AG meyakinkan bahwa bantuan rehab MDT akan betul-betul didapat, akan betul-betul diterima oleh KF dan pemilik lembaga lain yang turut mengusulkan.

Akhirnya, atas sejumlah uang yang diminta oleh AS dan AG, KF berkoordinasi ke sejumlah lembaga yang telah diusulkan untuk mendapatkan bantuan tersebut.

Gayung bersambut, uang-uang yang diminta oleh AS dan AG, mulai diberikan oleh KF dari uang pribadinya dan uang-uang yang terkumpul dari para pemilik lembaga lain yang turut diusulkan untuk menerima bantuan. Uang tersebut ada yang diberikan langsung ke AS dan ada pula yang ditransfer ke rekening AG.

Berdasarkan penjelasan KF, uang yang telah diserahkan ke AS dan AG, totalnya bisa lebih 1 milyar. Cuma, hanya 635 juta yang tanda bukti transfernya masih ada.

KF, Melalui Penasihat hukumnya, Marlaf Sucipto, kini sudah resmi melaporkan perkara ini ke Kepolisian Resort Sumenep dengan Nomor Laporan: LP/B/21/I/2023/SPKT/Polres Sumenep/ Polda Jawa Timur tanggal 23 Januari 2023.

Dihubungi secara terpisah melalui saluran telepon terkait laporan ini, Marlaf Sucipto membenarkan. Bahwa ia atas nama KF selaku kliennya, telah resmi melaporkan perkara ini ke kepolisian.

Ditanyai lebih dalam mengenai perkara ini, Marlaf Sucipto menjelaskan bahwa AS telah mengembalikan sebagian uang melalui aset di Batuan.

“Betul, Mas. Pak Aziz itu menyerahkan aset miliknya di Batuan. Kata Pak Aziz, aset itu pernah ditawar 250jt beberapa tahun yang lalu dan katanya, kalau dijual 300jt itu pasti laku. Akhirnya, aset itu disepakati seharga 275jt. Setelah aset di bawah kendali Pak Kiai, aset itu ditawarkan untuk dijual, eh ternyata penawaran orang tak ada yang berani beli di atas 200jt. Setelah saya dalami, ternyata pasarannya memang di bawah 200jt. Akhirnya aset itu laku terjual 175jt. Kiai rugi 100jt. Atas kerugian itu, kiai sudah tidak mempermasalahkan karena hal itu juga kesalahan kiai sendiri sebab tidak cermat sejak awal”.

Marlaf menambahi, “Kiai minta uangnya dikembalikan sejumlah 635jt itu sebab uang itu bukan miliknya sendiri secara keseluruhan. Uang itu terkumpul dari uang-uang para pemilik lembaga yang diorganisir oleh Kiai. Kini, uang itu terus diminta oleh para pemilik lembaga sebab bantuan yang dijanjikan oleh Pak Aziz ternyata bodong. Hal ini sudah dikonfirmasi langsung ke Kementerian Agama Jakarta oleh Kiai sendiri”.

“Dari dokumen yang saya terima dari Kiai, saya juga menduga ada pemalsuan dokumen yang mengatasnamakan Kementerian Agama. Dokumen ini, menurut penjelasan Kiai, didapat dari Mb’ Asyadira istri sirinya Pak Aziz. Cuma, untuk laporan dugaan pemalsuan dokumen, masih saya tahan dulu. Saat ini yang kita laporkan soal dugaan penipuan dan penggelapan nya saja ke Polres”. Pungkas Marlaf.

Dihubungi secara terpisah melalui What’sApp, AS meminta ketemu pewarta secara langsung. Ditanya bagaimana respons atas adanya laporan itu, AS tidak merespons, malah AS mengirimkan foto tiket perjalanan Kereta Api bertanggal 25 Februari 2023 yang tidak memiliki relevansi apa pun dengan kasus ini.
(Ham).

 

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *